“sudah selesai Princess?” tanya Om Kevin, adik Mama, juga guru Fisikaku. “sudah nih.” Ujarku menyerahkan buku catatan Fisikaku, “Cindy, Cindy..ckckck.” ujar tiba-tiba om Kevin sambil berdecak. Sedetik kemudian Ia mendapatiku sedang asyik bermain Game. “kenapa om? Betul semua ya?” tanyaku, masih asyik bermain Game. “boro-boro! Satupun enggak ada yang bener.” “HAH? Perasaan bener deh.” Ucapku membela diri, “udah ah aku capek. Aku mau tidur. Malam Om.” Tambahku lagi dan segera meninggalkannya. “dasar Princess pemalas! Kalo begini terus kapan nilai Fisika-mu bagus?” teriaknya dari ruang tamu, “ya Allah, matilah aku kalau begini terus. Capek hatiku ya Allah.” Gerutunya.
~Hai, ini aku. masih tetap Cindy. Kau tahu? Hari ini si Kevin bawel itu masih mengajariku Fisika. Aku sangat benci Fisika. Kenapa di dunia ini harus ada Perkara bernama ‘FISIKA’?? aku kesal karena beberapa kali om Kevin membujukku dengan Yogurt agar aku mau mengerjakan soal-soal Fisika. Tapi lain kali aku akan menolaknya! Lihat saja! oh ya, sudah dulu ya, aku ngantuk sekali. Dadahh..Goodnight~
Ini tahun ke-2 dan aku masih menulis curhatanku di Blog-ku. Ya, aku tinggal bersama om Kevin. Adik Mamaku, tapi aku sering memanggilnya Kevin. Tentu saja karena umurnya hanya berbeda 7 tahun denganku. Sudah 2 tahun aku tinggal dengannya sejak Mama bercerai dengan Papaku. Ia segera memutuskan untuk tinggal di New York. Ia sempat mengajakku tapi aku tak mau. Ia sangat bawel, seperti om Kevin.
“Hoamm.” Aku menguap. Pagi ini aku benar-benar malas bangun. Lagi-lagi om Kevin meneriakiku, kali ini dari ruang makan, “Cindy!!! Jam berapa ini? Bangun kau pemalas!” aku menatap jam di dinding, sekarang menunjuk ke angka 6. Aku baru saja membuka pintu kamarku, lalu om Kevin segera menarikku ke kamar mandi. Memasukanku ke dalam kamar mandi dan mengunciku dari luar. “om Kevin! Resek banget sih.” Teriaku meronta-ronta. “udah siang Princess pemalas. Buruan mandi nggak pake bawel!”
~
‘Bruk’- aku menutup pintu rumah. Sekarang baru pukul setengah 2 siang dan om Kevin belum pulang Kuliah. aku membanting tas-ku ke kasur. Aku benar-benar marah. Suasana di Sekolah hari ini membuatku muak. Satu-satunya pelarianku hanya VideoGame yang setia di genggamanku. Jari-jari ku yang kurus dengan lihai memencet tombol-tombol yang sudah mulai pudar. “payah!! Aarrrgggg.” Kubanting VideoGame-ku saat ku tahu aku kalah dalam permainanku sendiri. Aku mengambil selembaran kertas dari tas-ku yag kecil. Ku lihat lagi. Sekarang giliran angka 5 yang menjadi musuhku ‘aku benci semua angka. Benci, benci, benci’ teriakku dalam hati. Ku remuk-remukan kertas itu lalu segera kubuang ke tempat sampah di belakang pintu. Ingin rasanya aku menjerit sepuas hatiku, menangisi kebodohanku. Tapi aku tidak bisa menangis lagi. Aku sudah bermaksud untuk selalu diam. Ya, diam dan tak peduli bagaimana perasaanku.
~
“Princess, kamu sudah makan malam?” tanya om Kevin yang berdiri di depan pintu kamarku. Aku cuek saja tak mendengarkannya, lebih tepatnya ‘pura-pura’ tak mendengarkannya. “tadi siang kamu nggak makan ya? soalnya meja makan nya masih bersih tuh.” Ujarnya lagi. Ku lirik jam dindingku, ‘benar saja om Kevin sudah pulang, ini kan sudah pukul 7 malam’ kataku dalam hati. Ia menatap kesekeliling kamar dan…Bagus! Ia mendapatkan secarik kertas yang kusut di dalam tempat sampah. Ia langsung memungutnya, membuka kertas itu, dilihatnya sebentar dan seperti yang biasa ia lakukan ketika menemukan kertas hasil Ulanganku. Ia melipatnya dengan rapi, lalu ia keluar dari kamarku. Dari luar terdengar kalau ia memanggilku, “Om Kevin punya yogurt. Kalo nggak mau biar tak habisin.”
Kurang ajar! Lagi-lagi ia mengiming-imingiku Yogurt. Aku tak kuasa membiarkan Yogurt-Ku disantapnya. “Tapi, harga diriku bakalan jatuh sekali kalau begini.” Bisikku pelan. Tapi apa daya Yogurt telah menggodaku, akupun akhirnya bangkit dari kasur-ku. “apaansih om? Gak bisa!” ujarku mencoba mengejar om Kevin sambil berlari menuruni tangga. Baru saja aku sampai di meja makan, aku sudah dikejutkan oleh sesosok wanita sepantaran om Kevin yang duduk di ruang tamu. “Heh Princess abal-abal sini kamu!” seru om Kevin memanggilku yang baru saja menyuap sesendok Yogurt ke dalam mulutku. Aku tak bisa membayangkan ekspresiku yang bodoh saat itu. aku berjalan ke arahnya masih dengan tampangku yang bodoh. “apaan?” tanyaku tak berdosa, “kenalin ini namanya Kak Rere.” Ujar om Kevin mengenali wanita itu padaku, “Rere.” Ujar wanita itu mengulurkan tangannya sambil memperkenalkan diri padaku. Senyumnya yang cantik membuatku minder sekali. Tak mau kalah, akupun menyebutkan diriku, “Cin….” Baru saja aku hendak memperkenalkan namaku, Wanita itu sudah menyelaku, “ayo sini. Kakak dengar kamu nggak suka pelajaran Fisika ya? coba kakak ajarin kamu, mau kan?” tanyanya. ‘resek juga nih orang. Pasti om Kevin yang membayarnya untuk jadi guruku yang baru.’ Gerutuku dalam hati.
Semalam Wanita bernama Rere itu menjadi guru Fisika-ku untuk semalam. Aku mengerjakan soal-soal Fisika itu dengan setengah hati. Selama belajar mulutku tak henti-henti komat-kamit sumpah serapah dalam hati. Aku kapok! Alhasil setelah Ia pulang, aku langsung ngambek. Aku nggak akan mau maafin om Kevin. Gara-gara itu pula aku tidur pukul 11 malam. Kulihat pagi ini Yogurt-ku yang semalam sudah basi. Setelah wanita bernama Rere itu mengajakku belajar, dengan terpaksa aku harus meninggalkan Yogurtku di atas meja makan yang baru saja ku santap sesendok. Pagi ini di Sekolah, Jam pertama sampai jam ke-3 guru mata pelajaran disekolahku izin dan tentu saja selama 3 jam itu benar-benar kosong. Ini saat yang paling kutunggu-tunggu bagiku, tapi itu dulu. Ku buka jadwal Ujian Semester. hanya tinggal satu minggu lagi Ujian Semester dimulai. Aku tidak melakukan apa-apa selain melamun, sesekali aku melirik kearah anak-anak yang duduk dua baris dariku, mereka sedang menghitung Matematika, Juga ada yang menghafal pelajaran Sejarah. Tak sedikit pula yang bermain, bercanda, saling jail-menjaili dan sepertinya hanya aku yag berdiam diri. Aku tidak mau waktuku habis dengan sia-sia. Aku membawa buku catatanku dan sekotak tempat pensilku ke luar kelas. Aku duduk di depan kelas. Udaranya begitu sejuk. Benar saja, siang ini langit sedang mendung dengan warna abu-abu khasnya. Mula-mula kubuka buku catatanku. Ku lihat soal-soal Fisika disana, aku mencoba menghitung. Belum sempat aku menghitung, tapi rasanya kepalaku sudah pusing seperti turun dari Komedi Putar. Aku menyerah dan putus asa. Aku tidak tau harus bagaimana. Aku menyesal sekali kenapa aku harus dilahirkan menjadi anak yang bodoh, yang selalu mendapat nilai 4 dan 5 disetiap pelajaran, sangat terbelakang dibanding teman-temanku di kelas dan untuk kesekian kalinya aku merasa depresi. Aku merasa batinku tertekan, namun selama ini aku mencoba menutupinya, mencoba acuh dari segalanya, mencoba untuk selalu menjadi kuat. Aku meringkuk menundukan kepala. Tak terasa setetes air mata membasahi pipiku, aku sangat kaget. hari ini aku menangis. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku beruntung karena tidak ada yang melihatku. ‘Biarkan hari ini aku menangis, tapi esok dan seterusnya aku harus kembali menjadi Cindy yang kuat, Cindy yang individualis, Cindy yang masa bodoh.’ Ujarku dalam hati.
“menurutmu Fisika itu apa?” ujar tiba-tiba seseorang di sampingku tak lama kemudian. “Neraka! Fisika itu Perkara yang tak dapat diselesaikan sekalipun dengan Hukum!” Jawabku kesal. “benarkah? Tapi di bukumu banyak sekali soal-soal Fisika, pasti kamu suka Fisika bukan?” tanyanya lagi. Aku terkejut, seketika aku mengangkat kepalaku. Segera kuhapus air mataku . ku lihat orang itu. aku tidak mengenalnya, tetapi wajahnya tak begitu asing bagiku. Lalu dengan cepat ia mengambil bukuku yang tergeletak di lantai, Ia juga merebut pensil di tanganku. Lalu ia menuliskan angka 1 sampai dengan 10. Aku sempat berpikir apakah dia baru belajar menghitung ataukah dia sangat menyukai angka. “apa kamu suka angka?” tanyaku padanya. “ya.” jawabnya datar sambil tetap menulis angka-anaka lainnya. “angka mana yang paling kamu suka?” tanyaku lagi, “4 dan 5.” Jawabnya. Apa aku tidak salah dengar? dia menyukai angka yang sama sekali tidak aku sukai, sangat ku benci! “kalau kamu?” tanyanya balik kepadaku, “nggak ada.” Jawabku cepat sambil menggelengkan kepalaku. “lalu gemana kamu bisa menghitung Fisika sedangkan kamu kan nggak suka angka. Apa kata dunia?” ujarnya sambil menirukan logat pemeran iklan Pajak. “aku kan nggak bilang kalau aku suka Fisika.” Ujarku, kali ini dengan kesal. Ia benar-benar memancing emosiku. “mmm…gitu.” Ucapnya menanggapiku dengan santai, “oya, namaku Hegan.” Katanya memperkenalkan diri. Sedikit demi sedikit emosiku reda. “Cindy.” Ucapku balik memperkenalkan diri. “siapa juga yang nanya? Hehehe.” Ujarnya. Sudah bagus aku mau memperkenalkan diri, meminjamkan Buku ‘ah tepatnya direbut’ dan menanggapi obrolannya. Jarang-jarang aku mengobrol dengan orang lain di Sekolah selain guru, itupun jika ada yang bertanya.
“ya, kamu Cindy coba jawab soal nomor 12.” Ujar Guru Pkn. Aku melihat jam tanganku, ah tinggal 2 menit lagi. Aku sengaja membuat lebih lama untuk menjawab , agar waktu 2 menit segera berlalu. “mm..sttt sttt.” bisikku membaca tulisan-tulisan kecil di buku. “coba keraskan suaramu Cindy, teman-teman yang lain tidak bisa mendengarmu.” Ujar Guru itu lagi. “jawabannya itu….” ujarku -teng teng teng- ‘fiuhh I saved by the bell’ aku sangat berterimakasih kepada Pak Karim yang telah membunyikan Bel tepat pada waktunya. ~
Hari Ini, akhirnya hujan turun juga setelah sejak kemarin aku berharap hujan turun. ‘tapi bukan sekarang yang kuinginkan. Mengapa harus sekarang? sudah tahu aku nggak bawa payug atau jas hujan.’ Gerutuku dalam hati sepanjang jalan di koridor. Aku dan anak-anak lain akan kembali ke kelas setelah sebelumnya kami mendapat jadwal jam olahraga. “setelah ini kita kan pulang, mau nggak ke Mcdonald? Besokan hari minggu.” Seru salah seorang temanku tiba-tiba, dan yang lain ikut berseru, “boleh-boleh. Yaudah yuk yuk!.” Aku hanya berpaling dari mereka. Bagiku Mcdonald, Pizza, atau makanan yang sejenis itu sangatlah membosankan. Setiap hari setelah pulang kuliah tidak ada makanan lain yang dibawa Om Kevin selain yang baru saja aku sebutkan. Dan benar saja! lagipula mereka sama sekali tidak mengajakku. Fine, aku keluar dari kelas, karena kebetulan juga ini sudah pulang sekolah. Di depan kelasku ternyata sudah berdiri sesosok makhluk yang pertama dan hanya mau mengajak aku ngobrol. Siapa lagi kalau bukan si Usil Hegan yang mengasyikan. Ia langsung menarikku kearah parkiran motor sekolah. “lho …Mau kemana ini?” tanyaku terkejut. Aku cepat-cepat melepaskan tanganya dari lenganku. “mau kemana saja boleh.” Jawabnya mengejek. Aku tambah kesal. ku manyunkan bibirku selama di perjalanan. Anehnya aku tidak menolak untuk diajak satu makhluk ini pergi entah kemana, tapi ku tahu dia orang yang baik dan yang pasti mengajakku ke tempat yang baik pula. Motornya begitu cepat melaju. Hujan yang turun sangat deras sekali, bersama angin yang lumayan kencang menambah dinginnya suasana Hujan. Tak kusadari juga ternyata kini aku sudah tidak lagi memanyunkan bibirku. Tiba-tiba Hegan berseru, “nah gitu dong dari tadi manyuuuun melulu. Emang dasarnya jelek kalo manyun nanti tambah jelek!” ledeknya. Aku kembali manyun, aku meremas-remas tas-ku yang ku dekap. “enak saja! hujan juga tahu kalo aku cantik ye..” jawabku sekenanya. lalu ia membalas lagi, “heh, hujan tuh turun karena nangis! Nangisin kejelekan kamu lah, hahaha.” Begitu puas ia tertawa sampai ia sendiri tak sadar telah sampai ditujuan. “eh, udah sampe. Turun buruan! Ha ha.” Ucapnya masih sedikit tertawa meneruskan yang tadi. “iya iya bawel banget.” Jawabku. Kami segera berteduh ke pinggir. Ku baca palang di depan pintu gerbang yang bertuliskan *PERPUSTAKAAN KOTA* wah! Aku baru tahu di tengah-tengah kota begini ternyata ada Perpustakan ngumpet. Tempatnya begitu nyaman, bagus sekali. Sempat sebelumnya aku mengira ini Kantor Papanya Hegan atau Mamanya atau Kakanya atau kantor Majikannya ‘ups’ yang pasti sudah kuduga dia pasti mengajakku ke tempat yang baik dan ya, benar sekali. Hegan membuka tas-nya. Dari dalam ia mengambil sepasang baju dan memberikanku satu diantaranya. “sering bolos sekolah ya? ketahuan.” kataku padanya menuduh. “emang kenapa?” tanyanya balik. “lihat aja kamu bawa baju gini.” Kataku dan ia balik menjawab, “yasudah kalau nggak mau sini balikin bajunya.” “enak aja. Udah ngasih minta balikin. Wlee.” Ujarku sambil memeletkan lidahku. Akhirnya, setelah kami mengganti baju seragam kami yang basah dengan baju Hegan, kami pun mulai mencari buku. Pertama-tama aku menyusuri setiap lorong yang berjejer barisan-barisak rak buku yang sangat tinggi. Tempatnya ber-AC, sangat nyaman dan asyik. Suasananya begitu hening. Tiba-tiba saja aku terpikir untuk mengerjai Hegan. Aku berjalan bagai detektif yang mencari tersangka. Aku membuntuti Hegan dari belakang, mencoba mengagetkannya namun ternyata ia lebih peka dari yang kubayangkan. “dasar penguntit. Kurang kerjaan banget sih. Kalo kurang kerjaan, dirumahku masih nerima tukang cuci kok haha.” Ujarnya. Kurang ajar sekali dia, “siapa juga yang menguntit? Sok tahu banget sih.” Bela ku. Aku merasa lebih bodoh lagi setelah aku menyadari bahwa aku seperti anak SD yang bermain petak umpet. “heh sini!” serunya memanggilku yang sedang berdiri memilah-milah buku. Aku menghampirinya dengan perasaan sedikit tak enak, akupun was-was. Benar saja, setumpuk buku Fisika dan yang berkenaan dengan Sains sudah tertumpuk rapi di atas meja. “nggak mau!” sontak aku menolak begitu melihat buku-buku tersebut. “sini!” sahutnya kali ini menarik lenganku. Akhirnya akupun duduk disampignya, ku tahu sebentar lagi ajal ku menjemput setelah mengadapi buku-buku ini. “inikah musuhmu? Atau yang ini? Yang ini iya juga nggak?” tanyanya seketika padaku sambil menunjuk lembar-perlembar buku yang menuliskan panduan Fisika dan Sains. Ia tampak sangat bodoh, membuatku tidak tahan untuk tertawa. “ayo kita berteman. Ayo kenalan dong!” katanya sambil menyuruhku bersalaman dengan buku. Aku meresponnya dengan aneh takut-takut Hegan benar-benar gila. “halo, namaku Hegan dan Ini Cindy.” Ujarnya pada buku Fisika memperkenalkanku. “sekarang dia bukan musuhmu lagi Cindy, kalian kan udah jadi teman.” Tambahnya lagi padaku. Buku itu sudah membuatnya menjadi gila.
Lama kami belajar, mebuka lembar-per lembar, Bab-per bab, buku-per buku dan kali Ini aku sama sekali tidak merasa bosan. Ini sangat mengasyikan! Satu persatu ilmu aku hafal, rumus-rumus, logika, sejarah, masuk dalam otakku dengan lancar tidak seperti biasanya. biasanya setiap kali aku menghafal,otakku sudah terasa penuh seperti jaringan yang harus dibuka dengan password. Kali ini aku sudah menemukan password untuk masuk ke otakku. Ya, Hegan memang pandai dalam masalah belajar dan mengajar. Jujur saja, aku tidak pernah merasa belajar se-efektif ini. “apa yang terjadi dengan masyarakat Surabaya, ketika A.W.S Mallaby terbunuh?” tanyanya kepadaku tentang pelajaran sejarah, “tentu saja Belanda menyerang masyarakat surabaya. Mereka mengira bahwa masyarakat setempat yang membunuh Mallaby, padahal kan dia meninggal karena kecelakaan. Mobilnya kan meledak. Ya kan?” jawabku. “tuh bisa. Kalo aku sih tahu kamu gini, nggak percaya tuh nilai ulanganmu 5.” Ucapnya. “tapi kenyataannya gitu tuan Profersor.” Ucapku balik. “coba, aku tanya lagi. Tadi kamu belajar apa tentang Fisika?” tanyanya. “Listrik Statis.” Jawabku. lalu ia berkata lagi, “lalu bagaimana dengan ini?” katanya sambil memberiku sebuah soal Fisika. kali ini Hegan membuatku berpikir dan sempat beberapa kali aku menghitung, tapi akhirnya aku bisa menyelesaikannya.
F=K.Q1.Q2
4  |
|
(2.10 -2) 2 |
|
F=
9.109.6.10-7.8.10-8 =
54.8.109.10-7.10-8.104 = 108.10
2.10
-4 = 108.10
-2 =
1.08
N
Jawabanku benar, aku sangat senang. Hegan telah merubahku hampir 180o menjadi anak yang sedikit pintar, bisa dikatakan melaju pada kepintaran dan meninggalkan kebodohan aku bersyukur bisa mengenal dia apalagi di waktu yang sangat tepat sebelum Ujian Semester. “pulang yuk, udah sore nanti Kevin pulang eh Om Kevin.” Ujarku. “mm..iyadeh.” ujar Hegan lagi. Kami pun segera mengembalikan buku-buku di rak. Matahari mulai tenggelam mengikuti laju sepeda motor kami yang berjalan pulang.
Esoknya, Hegan sering mengajakku ke Perpustakaan Kota dan juga tempat-tempat lainnya yang tak kalah mengasyikan. Semakin hari pelajaran yang otakku terima semakin banyak, aku semakin sering menjawab pertanyaan Guru dikelas sebelum anak-anak yang lain menjawabnya. Aku tampak begitu yakin mengahadapi Ujian Semester yang akan dimulai 3 hari lagi.
“Princess…sarapannya dimakan! Awas kalau sampai nggak. buruan nanti telat.” Teriak om Kevin seperti biasa kala pagi menyapa. Sayang, aku sudah berangkat ke sekolah jadi teriakan Om Kevin sama sekali sia-sia.
“tumben kamu datang pagi Cin.” ujar Riska sinis, anak perempuan yang paling rajin dikelas. “memang kenapa?” jawabku menanggapinya dangan santai. “biasanya masuk BK mulu kalau masuk sekolah. Mau memperbaiki nasib ceritanya?” sindirnya. Sindirannya begitu mengena di hatiku. Tapi untung saja tingkat kesabaranku lebih tinggi dari apa yang ia bayangkan, “mmm..sepertinya begitu. Oh mungkin kali ini guru BK yang telat. Akhirnya mereka kalah dalam peraturannya sendiri.” Ujarku. Aku cepat-cepat pergi dari situasi seperti itu. bisa-bisa Riska balas menyindirku lagi dan gawat kalau aku sampai di maki-maki anak sekelas. Riska adalah ketua Geng di kelas, dan dia adalah anak yang mendapat Ranking pertama di kelas. Sangan pintar namun tidak pintar dalam mengontrol ego. Suka bergosip dan sebalnya aku yang sering digosipkan. Aku bak selebritis, apalagi setelah akhir-akhir ini ia tahu aku dekat dengan Hegan. Belakangan ku ketahui Ia menyukai Hegan setelah Hegan sering mampir ke kelasku. Aku cuek saja. Aku tahu pasti ia sangat cemburu. Riska, Riska kau teman jauhku yang gila setelah Hegan. Tingkat kegilaan mereka mungkin sama, bedanya Riska lebih agresif dengan kegilaan atas Ego-nya. Siang ini aku masih ke Perpustakaan dengan Hegan. Waktuku sudah lebih cepat untuk mengerjakan soal-soal. Seperti biasa aku larut dalam keasyikan kami berdua belajar.
Hegan mengantarku pulang. Aku segera masuk ke dalam. Di dalam Om Kevin sudah menunggu. Lebih-lebih ada Kak Sandra sepupuku dan Jodi sepupuku juga. Mereka tampak diam dan menunduk. Hingga mereka tahu kehadiranku juga respon mereka biasa saja tampak datar dan lebih melihatku dengan kasihan. Aku ikut diam berdiri di depan pintu. “Cindy, kok baru pulang?” tanya Kak Sandra menghancurkan suasana yang begitu dingin. “tadi abis belajar bareng temen dulu Kak.” Jawabku. “oh. Kamu sudah makan?” tanyanya lagi. aku hanya menggeleng dan berkata, “belum.” Om Kevin tiba-tiba membuka suara, “Cindy sini sebentar.” Katanya sambil menggenggam Handphone di tangannya. Aku hanya menurutinya dan duduk di sofa depan Om Kevin. Perasaanku tidak enak. Pasti ada sesuatu kalau tidak, tidak mungkin seperti ini. Om Kevin memberikanku Handphonenya. Aku mengangkat Handphone itu ke dekat telingaku. Terdengar suara di seberang sana, “Halo..” aku tahu, itu suara Mama. “halo, Mama?” tanyaku pada seseorang di sana. “Cindy? Kamu sudah pulang? Sejak tadi Mama menunggumu lho sayang. Begini, mmm… sebenarnya mama mau bilang kalau Mama…” kata-kata Mama yang menggantung membuatku penasaran, sangat penasaran sekali. “Kalau Mama telah mendapatkan pengganti Papamu. Kau tahulah, pasti kamu bisa mengerti kan sayang? Cindy..halo..cindy.” Aku menurunkan Handphone dari telingaku. Mataku menatap kosong, pikiranku jauh terombang-ambing entah kemana. Ku berikan Handphone itu balik ke Om Kevin. Aku berlari ke Kamarku. Aku menangis lagi. Ku kunci pintu kamarku rapat-rapat. Ku nyalakan DVD player dengan Volume maksimal. Aku meringkuik diatas kasur. Aku bimbang, hatiku hancur. Untuk menerima bahwa orang tuaku telah bercerai saja sangat menyesakkan hatiku, apalagi setelah aku tahu Mama akan segera menikah. Aku sayang Mama aku juga sayang Papa. Mungkin aku bisa menerima perceraian mereka, tapi untuk menerima pengganti Papa? bagiku itu tidak mudah. Aku masih merasakan sosok Papa di sisiku meski kebaradaannya entah tiada yang tahu. Benar-benar hancurrrr, segalanya hancur dan diluar kendali…………..
Esoknya aku hanya berdiam, detik-detik menuju Ujian Semester sudah kupasrahkan pada Allah. Aku tidak konsen belajar. Aku butuh Hegan. Disaat-saat seperti ini aku rindu candaannya yang kocak, gilanya dia, autisnya dia, bodohnya dia, dan pintarnya dia. Namun sejauh aku mencarinya tetap aku tak bisa menemukannya. Pulang Sekolah aku dipanggil guru BK. Aku sudah pasrah, apapun yang terjadi kali ini aku pasrah. Bu Jihan, guru BK memberikanku melembar surat berwarna pink yang bertuliskan ‘My Princess-Cindy’ tapi tidak tercantum siapa yang menulisnya Bu jihan hanya bilang padaku kalau aku adalah anak yang sangat beruntung. Setelah aku sampai dirumah segera kubuka surat itu.
Dear My Princess-Cindy
Halo! Cindy, gemana udah siap kan Ujian Semesternya? Pelajaran yang kita pelajari gemana? Masih ingat kan? Mmm..sebelumnya aku mau bilang, kalau aku ..mmm.. bukan-bukan, kalau kamu membaca surat ini itu berarti aku sudah sampai di Amerika. aku disini akan meneruskan cita-citaku untuk menantang kegantenganku dengan bule-bule disini. Hahaha, bercanda. Maaf sebelumnya aku belum sempat bilang ke kamu langsung. Soalnya aku cari-cari kamu ke kelas nggak ada sih. Oya, Cin. Aku juga nggak sempat bilang ke kamu kalau perkataanku tentang kamu jelek itu diluar keinginanku. Kamu itu Princess paling cantiiiik yang aku kenal. sumpah, aku kangen naik motor bareng kamu. Baweeel mulu sepanjang jalan, kangen juga bodohnya kamu lho, Damai!!! Oya satu lagi pesan aku, kamu itu tetap Cindy. Cindy yang pinter, Cindy yang baik, Lucu, Cindy yang tegar dan Cindy yang bawel.Cindy berjuang ya! kali ini tunjukin kalo nilai kamu bagus! Cin, jangan lupa setelah Ujian kamu balas suratku ini ya.
Bertanda, si Ganteng Hegan
Aku menitikan air mata, menangis keras, perasaanku campur aduk. Sedih, senang dan haru. Saat ini juga aku bersumpah. Aku akan belajar rajin. Aku akan berjuang Ujian Semester ini. Aku tidak akan membuat bangga Mama dengan nilai Ujianku yang bagus nanti. Tetapi aku ingin menunjukan bahwa aku bukan Cindy yang bodoh. Lebih-lebih aku ingin menunjukan bahwa kerja keras Hegan mengubahku itu tidak pernah sia-sia.
Semingu kemudian, Ujian Semester telah berlalu. Om Kevin dipanggil ke Sekolah. Pulangnya ia memelukku, dirumah juga ada Kak Sandra tapi kali ini tidak ada Jodi. Raporku telah dibagikan, dan betapa bangganya Om Kevin, Kak Sandra lebih-lebih aku yang mengetahui bahwa aku menjadi juara umum. ‘benar-benar keajaiban.’ Kata guruku di sekolah, ujar om Kevin memberitahuku. Akhirnya kerja kerasku tidak sia-sia. Prestasiku sekarang menunjukan bahwa, bukan karena berita tentang Mama akan segera menikah akan membuatku semakin terpuruk. Tidak, aku bangun terlebih dahulu sebelum aku terpuruk dan tersiksa dalam kebodohanku. Aku membalas surat Hegan, aku berterima kasih sekali padanya. Liburan ini aku akan menghadiri Pesta Pernikahan Mama dengan calon suaminya, kemana lagi kalau bukan ke New York, Amerika. Aku sudah berencana untuk bertemu Hegan disana.
Karena Hegan, orang yang membawaku keluar dari kelamnya kebodohan menuju dunia lur yang terang. Hegan yang membantu membuka otakku yang terkunci. Dia kuncinya. Satu-satu kunci bagi otakku dan hatiku. Karena Hegan, sekarang aku lebih memperhatikan orang lain, tidak individualis, tidak egois, yang pasti aku jadi memperhatikan perasaanku sendiri. Dia satu-satunya yang membuat aku berubah. Satu-satu teman dalam hidupku. Satu-satunya kenangan yang terindah. Aku tahu diluar sana pasti banyak orang seperti Hegan, tapi hanya ada satu yang tuhan berikan dan yang benar-benar di hatiku dan di hidupku. ~thanks God I found Him~